Friday, December 21, 2012

Sahabat-4- *cerbung*


Keesokan harinya, Ratu menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya kemarin kepada Annisa. Dia juga menceritakan betapa kayanya Nadia, bagaimana keadaan rumahnya Nadia, dan semua yang dia lihat dirumah Nadia.
             elo beneran kepengen itu kalung yah Tu?” Tanya Annisa di sela-sela pembicaraan mereka
             hah? Apaan Nis?” kata Ratu yang tidak begitu mendengar pertanyaan Annisa
             elo kepengen banget yah ama itu kalung berlian?” ulang Annisa
yah, bisa dibilang gitu sih nis, tapi gue masa nyamain elo ama berlian itu sih, elo tuh lebih berharga daripada berlian itu nis” kata Ratu dengan senyum manisnya.
        Annisa terbengong, dan Nampak seperti memikirkan sesuatu.
elo kenapa sih nis? Udahlah, nggak perlu dipikirin, gue masih milih elo kok” kata Ratu, sekali lagi dengan senyum yang kali ini membuat Annisa enek.
iya deh
        Tanpa disadari oleh Ratu, Annisa memikirkan masalah kalung itu. Dia bertekad untuk menemui Nadia, dan menyetujui tawaran yang ditawarkan Nadia kepada Ratu.
        Annisa mencari Nadia saat jam istirahat. Dan membicarakan tawaran yang dia tawarkan pada Ratu. Annisa menyetujui penawaran itu, dan perjanjiannya dimulai, besok, saat Annisa menginjakkan kakinya disekolah. Dan saat itu juga, Nadia akan memberikan kalung berlian itu kepada Ratu.
***
        Keesokan harinya, Nadia langsung menghampiri Ratu di mejanya.
             nih, buat elo, gratis” kata Nadia tiba-tiba.
             apaan maksud elo, gue nggak mau ngejual sahabat gue” tolak Ratu
             tapi sahabat elo yang ngejual dirinya ama gue” jawab Nadia sedikit membentak
             apa maksud elo?Nisa gak mungkin nglakuin itu” kata Ratu
kalo elo nggak percaya, ya udah, terserah, elo Tanya aja ama sahabat, eh, maksud gue temen elo” kata Nadia
        Belum selesai Nadia mengatupkan mulutnya, Annisa sudah terlihat diujung pintu, dan masuk ke kelas, menuju bangku sebelah Nadia. Ratu yang bingung melihat Annisa yang memilih duduk disebelah Nadia, kemudian menghampiri Annisa.
        Di depan Annisa, Ratu berbicara dengan nada sedikit memelas, dia meminta penjelasan dari semua ini.
iya, gue nyetujuin penawaran Nadia. Gue tau, sebenernya elo kepengen banget itu kalung, jadi ya..itu buat elo. Anggap aja itu hadiah ulang tahun elo dari gue, elo besok ulang tahun kan Tu?” kata Annisa menjelaskan.
Annisa” kata Ratu dengan terisak, mendengar penjelasan Annisa.
        Ratu menangis sejadi-jadinya dihadapan Annisa. Annisa yang tidak tega melihat air mata Ratu mengalir membasahi pipinya, memberanikan untuk keluar kelas. Keluarnya Annisa diikuti Nadia. Ternyata Annisa menuju kantin, dan disana dia duduk termenung. Nadia mengikutinya dan duduk dihadapannya. Dia mulai membuka pembicaraan.
             elo kenapa keluar Nis?” Tanya Nadia
             gue nggak tega ngliat Ratu nangis. Apa yang udah gue lakuin?
             segitunya banget sih elo
             elo nggak tau rasanya sih
        Perkataan Annisa membuat raut muka Nadia berubah. Dia memang tidak pernah merasakan hal yang dialami Annisa. Dia memang tidak pernah memiliki sahabat, jangankan sahabat, teman pun tak satupun pernah dia miliki.
iya, gue emang nggak pernah ngrasain itu, gue emang nggak pernah punya sahabat, dan gue kepengen punya sahabat, yang kaya’ elo Nis. Gue kepengen punya sahabat, gue pengen ngrasain jadi sahabat. Gue pengen ngrasain apa yang dirasain sahabat gue” kata Nadia, yang sontak mengagetkan Annisa. “padahal, apa sih kurangnya gue? Gue punya banyak duit, bokap gue donatur utama sekolah ini, gak bakal rugi lah, anak yang mau sahabatan am ague. Tapi kenapa nggak ada yang mau sahabatan ama gue, temenan aja nih, nggak mau” lanjut Nadia dengan nada melas.
Nad, jadi karena ini, elo ngebeli gue?” Tanya Annisa
gue nggak ada niat ngebeli elo, gue cuma bikin penawaran aja
okelah, terserah apa istilahnya, tapi cara elo salah. Nggak semuanya bisa kebeli Nad. Apalagi ketulusan persahabatan, nggak usah elo kasih berlian mahal pun, gue mau temenan sama elo Nad, elo cuma perlu ngerubah sikap elo biar anak-anak mau jadi temen bahkan sahabat elo” jelas Annisa panjang lebar.
sikap? Sikap gue yang mana?” Tanya Nadia bloon.
ya ampun Nad, elo nggak nyadar? Elo terlalu ngebanggain harta ortu elo, dan elo paling nggak mau dikalahin. Sekali elo kalah, elo pasti ngebesarin masalah elo itu. Anak-anak nggak suka itu” jelas Annisa.
apa kalo gue berubah, itu ngejamin, banyak anak yang suka dan mau temenan ama gue?” Tanya Nadia ragu
jelaslah Nad, elo tuh cantik, tajir, dan kalo elo rendah hati, pasti banyak yang mau temenan ama elo” jawab Annisa dengan senyuman.
***
        Hari pun berlalu. Annisa dan Nadia tetap bersama, mereka berdua belum meminta maaf kepada Ratu. Mereka belum menyiapkan diri dan mental mereka, dan rencananya, hari ini mereka meminta maaf kepada Ratu.
        Pagi itu, mereka menunggu kedatangan Ratu. Mereka duduk di depan kelas. Tapi Ratu tak kunjung datang. Sampai bel masuk berbunyi, Ratu tetap tidak datang. Dan tak lama setelah bel masuk berbunyi, datang seorang guru yang mengantarkan surat izin, dan itu berasal dari Ratu. Ratu sakit, tidak tahu apa penyebabnya.
        Sepulang sekolah, mereka berdua menjenguk Ratu dirumahnya. Mereka disambut ramah oleh mama Ratu, tapi tidak dengan Ratu. Ratu tidak ingin menemui mereka berdua. Ratu mengunci diri dikamar. Meskipun begitu, mereka tetap menunggu Ratu keluar kamar. Mama Ratu pun ikut membantu, agar Ratu keluar kamar, berbagai bujukan dilontarkan mamanya, tetapi, tetap tidak bisa merubah keadaan. Akhirnya, Annisa mencoba membujuk Ratu.
Ratu, keluar dong dari kamar, gue mau ngomong sama elo Tu, gue mau minta maaf sama elo Tu. Gue nyesel nglakuin yang kemarin Tu. Gue kangen sama elo Tu, elo keluar yah?
        Tak berapa lama setelah Annisa menghentikan bujukannya, Ratu beranjak dari tempat tidur, dan membuka pintu kamarnya yang sedari tadi terkunci dari dalam. Semua orang yang menunggu dan membujuk Ratu agar keluar kamar, menyambut Ratu dengan senyum lebar. Begitu Ratu keluar dari kamar, dia langsung melangkah menuju Annisa, dan memeluknya. Ratu menangis di pelukan Annisa, Annisa mengerti apa yang dirasakan sahabatnya itu. Annisa juga terbawa suasana, dan perlahan, air mata mulai membasahi pipi putihnya.
             udah yah Tu, jangan nangis”kata Annisa sambil mengusap air mata Ratu
elo juga” timpal Ratu juga melakukan hal yang sama dengan Annisa. Akhirnya mereka berdua tersenyum.
        Mereka pun turun menuju ruang tamu, untuk membicarakan masalah kemarin. Di ruang tamu itu sudah ada Nadia dan mama Ratu yang sedang berbincang. Begitu Ratu dan Annisa sampai di ruang tamu, mama Ratu pergi meninggalkan mereka.
        Di ruang tamu itu, mereka berbicara panjang lebar, menjelaskan yang belum jelas, menanyakan yang belum tertanyakan, dan menjawab yang belum terjawab. Setelah semua masalah sudah jelas dan terselesaikan. Mereka saling meminta maaf.


             Mereka sekarang berteman baik, bahkan sekarang Nadia menjadi sahabat Ratu dan Annisa. Kalung yang sudah ada ditangan Ratu, tetap menjadi milik Ratu, Nadia tidak mau menerimanya kembali. Nadia yang selalu membanggakan harta orang tuanya dan selalu ingin menang sendiri, sejak saat itu, berubah 360o, menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan.

0 comments:

Post a Comment