Keesokan
harinya, Ratu menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya kemarin kepada
Annisa. Dia juga menceritakan betapa kayanya Nadia, bagaimana keadaan rumahnya Nadia,
dan semua yang dia lihat dirumah Nadia.
“elo beneran kepengen itu kalung yah Tu?” Tanya Annisa di sela-sela
pembicaraan mereka
“hah? Apaan Nis?” kata Ratu yang tidak begitu mendengar pertanyaan
Annisa
“elo kepengen banget yah ama itu kalung berlian?” ulang Annisa
“yah, bisa dibilang gitu sih nis, tapi gue
masa nyamain elo ama berlian itu sih, elo tuh lebih berharga daripada berlian
itu nis” kata Ratu dengan senyum manisnya.
Annisa terbengong, dan Nampak seperti
memikirkan sesuatu.
“elo kenapa sih nis? Udahlah, nggak perlu
dipikirin, gue masih milih elo kok” kata Ratu, sekali lagi dengan senyum
yang kali ini membuat Annisa enek.
“iya deh”
Tanpa disadari oleh Ratu, Annisa
memikirkan masalah kalung itu. Dia bertekad untuk menemui Nadia, dan menyetujui
tawaran yang ditawarkan Nadia kepada Ratu.
Annisa mencari Nadia saat jam istirahat.
Dan membicarakan tawaran yang dia tawarkan pada Ratu. Annisa menyetujui
penawaran itu, dan perjanjiannya dimulai, besok, saat Annisa menginjakkan
kakinya disekolah. Dan saat itu juga, Nadia akan memberikan kalung berlian itu
kepada Ratu.
***
Keesokan harinya, Nadia langsung
menghampiri Ratu di mejanya.
“nih, buat elo, gratis” kata Nadia tiba-tiba.
“apaan maksud elo, gue nggak mau ngejual sahabat gue” tolak Ratu
“ tapi sahabat elo yang ngejual dirinya ama gue” jawab Nadia sedikit
membentak
“apa maksud elo?Nisa gak mungkin nglakuin itu” kata Ratu
“kalo elo nggak percaya, ya udah, terserah,
elo Tanya aja ama sahabat, eh, maksud gue temen elo” kata Nadia
Belum selesai Nadia mengatupkan
mulutnya, Annisa sudah terlihat diujung pintu, dan masuk ke kelas, menuju
bangku sebelah Nadia. Ratu yang bingung melihat Annisa yang memilih duduk
disebelah Nadia, kemudian menghampiri Annisa.
Di depan Annisa, Ratu berbicara dengan
nada sedikit memelas, dia meminta penjelasan dari semua ini.
“iya, gue nyetujuin penawaran Nadia. Gue tau,
sebenernya elo kepengen banget itu kalung, jadi ya..itu buat elo. Anggap aja
itu hadiah ulang tahun elo dari gue, elo besok ulang tahun kan Tu?” kata
Annisa menjelaskan.
“Annisa” kata Ratu dengan terisak,
mendengar penjelasan Annisa.
Ratu menangis sejadi-jadinya dihadapan
Annisa. Annisa yang tidak tega melihat air mata Ratu mengalir membasahi
pipinya, memberanikan untuk keluar kelas. Keluarnya Annisa diikuti Nadia.
Ternyata Annisa menuju kantin, dan disana dia duduk termenung. Nadia
mengikutinya dan duduk dihadapannya. Dia mulai membuka pembicaraan.
“elo kenapa keluar Nis?” Tanya Nadia
“gue nggak tega ngliat Ratu nangis. Apa yang udah gue lakuin?”
“segitunya banget sih elo”
“elo nggak tau rasanya sih”
Perkataan Annisa membuat raut muka Nadia
berubah. Dia memang tidak pernah merasakan hal yang dialami Annisa. Dia memang
tidak pernah memiliki sahabat, jangankan sahabat, teman pun tak satupun pernah
dia miliki.
“iya, gue emang nggak pernah ngrasain itu,
gue emang nggak pernah punya sahabat, dan gue kepengen punya sahabat, yang kaya’
elo Nis. Gue kepengen punya sahabat, gue pengen ngrasain jadi sahabat. Gue
pengen ngrasain apa yang dirasain sahabat gue” kata Nadia, yang sontak
mengagetkan Annisa. “padahal, apa sih
kurangnya gue? Gue punya banyak duit, bokap gue donatur utama sekolah ini, gak
bakal rugi lah, anak yang mau sahabatan am ague. Tapi kenapa nggak ada yang mau
sahabatan ama gue, temenan aja nih, nggak mau” lanjut Nadia dengan nada
melas.
“Nad, jadi karena ini, elo ngebeli gue?”
Tanya Annisa
“gue nggak ada niat ngebeli elo, gue cuma
bikin penawaran aja”
“okelah, terserah apa istilahnya, tapi cara
elo salah. Nggak semuanya bisa kebeli Nad. Apalagi ketulusan persahabatan,
nggak usah elo kasih berlian mahal pun, gue mau temenan sama elo Nad, elo cuma
perlu ngerubah sikap elo biar anak-anak mau jadi temen bahkan sahabat elo”
jelas Annisa panjang lebar.
“sikap? Sikap gue yang mana?” Tanya Nadia
bloon.
“ya ampun Nad, elo nggak nyadar? Elo terlalu
ngebanggain harta ortu elo, dan elo paling nggak mau dikalahin. Sekali elo
kalah, elo pasti ngebesarin masalah elo itu. Anak-anak nggak suka itu”
jelas Annisa.
“apa kalo gue berubah, itu ngejamin, banyak
anak yang suka dan mau temenan ama gue?” Tanya Nadia ragu
“jelaslah Nad, elo tuh cantik, tajir, dan
kalo elo rendah hati, pasti banyak yang mau temenan ama elo” jawab Annisa
dengan senyuman.
***
Hari pun berlalu. Annisa dan Nadia tetap
bersama, mereka berdua belum meminta maaf kepada Ratu. Mereka belum menyiapkan
diri dan mental mereka, dan rencananya, hari ini mereka meminta maaf kepada
Ratu.
Pagi itu, mereka menunggu kedatangan
Ratu. Mereka duduk di depan kelas. Tapi Ratu tak kunjung datang. Sampai bel
masuk berbunyi, Ratu tetap tidak datang. Dan tak lama setelah bel masuk
berbunyi, datang seorang guru yang mengantarkan surat izin, dan itu berasal
dari Ratu. Ratu sakit, tidak tahu apa penyebabnya.
Sepulang sekolah, mereka berdua
menjenguk Ratu dirumahnya. Mereka disambut ramah oleh mama Ratu, tapi tidak
dengan Ratu. Ratu tidak ingin menemui mereka berdua. Ratu mengunci diri
dikamar. Meskipun begitu, mereka tetap menunggu Ratu keluar kamar. Mama Ratu
pun ikut membantu, agar Ratu keluar kamar, berbagai bujukan dilontarkan
mamanya, tetapi, tetap tidak bisa merubah keadaan. Akhirnya, Annisa mencoba
membujuk Ratu.
“Ratu, keluar dong dari kamar, gue mau
ngomong sama elo Tu, gue mau minta maaf sama elo Tu. Gue nyesel nglakuin yang kemarin
Tu. Gue kangen sama elo Tu, elo keluar yah?”
Tak berapa lama setelah Annisa
menghentikan bujukannya, Ratu beranjak dari tempat tidur, dan membuka pintu
kamarnya yang sedari tadi terkunci dari dalam. Semua orang yang menunggu dan
membujuk Ratu agar keluar kamar, menyambut Ratu dengan senyum lebar. Begitu
Ratu keluar dari kamar, dia langsung melangkah menuju Annisa, dan memeluknya.
Ratu menangis di pelukan Annisa, Annisa mengerti apa yang dirasakan sahabatnya
itu. Annisa juga terbawa suasana, dan perlahan, air mata mulai membasahi pipi
putihnya.
“udah yah Tu, jangan nangis”kata Annisa sambil mengusap air mata
Ratu
“elo juga” timpal Ratu juga melakukan hal
yang sama dengan Annisa. Akhirnya mereka berdua tersenyum.
Mereka pun turun menuju ruang tamu,
untuk membicarakan masalah kemarin. Di ruang tamu itu sudah ada Nadia dan mama
Ratu yang sedang berbincang. Begitu Ratu dan Annisa sampai di ruang tamu, mama
Ratu pergi meninggalkan mereka.
Di ruang tamu itu, mereka berbicara
panjang lebar, menjelaskan yang belum jelas, menanyakan yang belum tertanyakan,
dan menjawab yang belum terjawab. Setelah semua masalah sudah jelas dan
terselesaikan. Mereka saling meminta maaf.

