Monday, December 2, 2013

Akibat Menabung


Pagi itu, Anna bangun tepat pukul empat pagi. Tapi, tidak seperti biasanya. Anna merasa malas untuk memulai rutinitasnya sehari-hari. Banyak baying-bayang yang hadir di kepalanya. Semua bayangan itu berputar-putar tanpa henti sampai membuat kepalanya terasa pening.
Memang, akhir-akhir ini Anna mendapatkan banyak tugas dari sekolahnya. Dan beberapa tugas atau pekerjaan rumah itu, ada yang belum diselesaikannya. Belum lagi kompetisi di tempat bimbelnya yang mengharuskan Anna untuk mengerjakan ratusan soal.
Semakin Anna memikirkan itu semua, kepala Anna terasa semakin sakit. Dan timbul satu emosi yang dalam dirinya yang ingin menyeruak dari dalam hatinya. Anna ingin berteriak kencang, sekencang-kencangnya. Ingin melepaskan semua beban pikirannya. Namun dia sadar, sedang berada dimana dia saat ini.
“Astaghfirullah” Anna beristighfar, untuk menghilangkan sedikit emosinya. Kemudian, dia turun dari ranjangnya dan menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur dengan peralatan-peralata memasak.
“Ma, aku nggak enak badan” Anna merengek.
Mendengar suara Anna, ibunya menoleh. “Kenapa? Mama siapkan air hangat ya?” Ibunya menawarkan. Tapi, Anna hanya menggeleng.
“Aku nggak sekolah ya?”
“Kamu itu sudah kelas tiga, jangan sering-sering nggak sekolah” Ibunya berkata dengan suara tegas. Anna cemberut, dan meninggalkan ibunya disana untuk shalat subuh.
Setelah melaksanakan kewajibannya, Anna kembali ke kamarnya. Disana, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Kembali bayangan akan tugas-tugasnya menghampiri pikirannya, yang juga menimbulkan satu emosi dalam hati Anna yang kemudian diekspresikan dengan linangan air mata.
Beberapa menit Anna menangis, dengan bayang-bayang tugas yang terus menerus menghantui dan merusak pikirannya, tiba-tiba saja ibu membuka pintu kamar Anna yang tidak pernah dikunci. Dengan cepat Anna menghapus percuma air matanya.
“Itu, diantar Ayah ke dokter” Ibu berkata dengan lembut, dan hanya dijawab oleh Anna dengan sebuah anggukan.
Sebenarnya, Anna sangat keget saan ibunya menyebutkan kata “dokter”. Anna tahu, bagaimana kondisi tubuhnya. Tubuhnya tidak sedang sakit. Tapi, psikis nya lah yang perlu diobati.
Dan sekarang, pikiran Anna bertambah kacau dengan pernyataan ibunya tadi. Anna bingung, akan dijawab apa pertanyaan dokter nanti. Jika dia ditanya, apa yang dia rasakan, bolehkah dia menceritakan semuanya pada dokter?
‘ah, tidak’ Anna bergumam dalam hati. ‘dokter bukan psikiater. Dia tetaplah dokter, yang menyembuhkan penyakit tubuh. Bukan menyembuhkan penyakit psikis’. Tapi, meskipun demikian, Anna tetap harus berangkat ke dokter.
Dengan diantarkan ayahnya, Anna sampai di tempat praktik salah satu dokter langganannya. Karena sudah beberapa kali Anna memeriksakan tubuhnya disana, sang dokter mengenal Anna dengan baik.
“Saki tapa An?” Sang dokter bertanya dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah Anna.
Anna berpikir keras, sampai akhirnya, “Kepala saya sakit dok. Di bagian ini” Anna menunjuk bagian kepalanya dengan asal. Mendengar jawaban Anna, raut muka sang dokter berubah. Dia terlihat cemas.
“Sudah berapa lama?” Sang dokter bertanya kembali.
Karena Anna sedikit bisa membaca kecemasan sang dokter, dia tidak ingin memperparah keadaan. Dia menjawab. “Dua hari ini dok”.
Tak ayal, raut wajah sang dokter tidak lagi cemas. Dia menyiapkan beberapa obat dengan bercakap-cakap dengan Anna.
Setelah pulang dari dokter, Anna langsung masuk kamar dan merebahkan dirinya hingga tidak terasa waktu berjalan cepat. Orangtua Anna sudah berangkat bekerja. Dan Anna beranjak dari ranjangnya dengan cepat untuk menyiapkan semua yang akan dia kerjakan.
Dia menyusun rencana dalam pikirannya. Pertama-tama, dia harus mengerjakan tugas yang waktu pengumpulannya paling awal. Dimulai dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Kemudian, dia mencoba mengerjakan soal dari tempat bimbelnya yang berjumlah sekitar seratus soal.
Pukul satu siang, dia belum menyelesaikan semuanya. hanya tersisa matematika dan soal-soal dari tempat bimbelnya. Dia lelah. Tubuhnya menuntut haknya untuk beristirahat. Begitu juga otaknya.
Sekitar satu jam dia beristirahat dengan memejamkan matanya dan merebahkan badannya, dia kembali melakukan aktifitasnya tadi. Tanpa disangka, orangtua Anna sudah berada di rumah.
Saat hendak mengambil minuman di dapur, Ibu menanyakan keadaan Anna.
“Bagaimana? Sudah baikan?” Anna hanya menganggu, dan kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan semua tugasnya yang tersisa.
Pukul delapan malam, Anna beru menyelesaikan semuanya. dan dengan wajah lelah, dia tersenyum. Puas. “Alhamdulillah” Anna mengucapkannya perlahan, tapi dalam.
Anna memang tergolong siswi yang suka menabung tugas. Sehingga, pada saat tugasnya akan dikumpulkan, dia bingung dan jadi tertekan. Hingga seperti kejadian tersebut.


Karangan ini hanya untuk hiburan semata. Tidak untuk dijiplak.  

Friday, December 21, 2012

Sahabat-4- *cerbung*


Keesokan harinya, Ratu menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya kemarin kepada Annisa. Dia juga menceritakan betapa kayanya Nadia, bagaimana keadaan rumahnya Nadia, dan semua yang dia lihat dirumah Nadia.
             elo beneran kepengen itu kalung yah Tu?” Tanya Annisa di sela-sela pembicaraan mereka
             hah? Apaan Nis?” kata Ratu yang tidak begitu mendengar pertanyaan Annisa
             elo kepengen banget yah ama itu kalung berlian?” ulang Annisa
yah, bisa dibilang gitu sih nis, tapi gue masa nyamain elo ama berlian itu sih, elo tuh lebih berharga daripada berlian itu nis” kata Ratu dengan senyum manisnya.
        Annisa terbengong, dan Nampak seperti memikirkan sesuatu.
elo kenapa sih nis? Udahlah, nggak perlu dipikirin, gue masih milih elo kok” kata Ratu, sekali lagi dengan senyum yang kali ini membuat Annisa enek.
iya deh
        Tanpa disadari oleh Ratu, Annisa memikirkan masalah kalung itu. Dia bertekad untuk menemui Nadia, dan menyetujui tawaran yang ditawarkan Nadia kepada Ratu.
        Annisa mencari Nadia saat jam istirahat. Dan membicarakan tawaran yang dia tawarkan pada Ratu. Annisa menyetujui penawaran itu, dan perjanjiannya dimulai, besok, saat Annisa menginjakkan kakinya disekolah. Dan saat itu juga, Nadia akan memberikan kalung berlian itu kepada Ratu.
***
        Keesokan harinya, Nadia langsung menghampiri Ratu di mejanya.
             nih, buat elo, gratis” kata Nadia tiba-tiba.
             apaan maksud elo, gue nggak mau ngejual sahabat gue” tolak Ratu
             tapi sahabat elo yang ngejual dirinya ama gue” jawab Nadia sedikit membentak
             apa maksud elo?Nisa gak mungkin nglakuin itu” kata Ratu
kalo elo nggak percaya, ya udah, terserah, elo Tanya aja ama sahabat, eh, maksud gue temen elo” kata Nadia
        Belum selesai Nadia mengatupkan mulutnya, Annisa sudah terlihat diujung pintu, dan masuk ke kelas, menuju bangku sebelah Nadia. Ratu yang bingung melihat Annisa yang memilih duduk disebelah Nadia, kemudian menghampiri Annisa.
        Di depan Annisa, Ratu berbicara dengan nada sedikit memelas, dia meminta penjelasan dari semua ini.
iya, gue nyetujuin penawaran Nadia. Gue tau, sebenernya elo kepengen banget itu kalung, jadi ya..itu buat elo. Anggap aja itu hadiah ulang tahun elo dari gue, elo besok ulang tahun kan Tu?” kata Annisa menjelaskan.
Annisa” kata Ratu dengan terisak, mendengar penjelasan Annisa.
        Ratu menangis sejadi-jadinya dihadapan Annisa. Annisa yang tidak tega melihat air mata Ratu mengalir membasahi pipinya, memberanikan untuk keluar kelas. Keluarnya Annisa diikuti Nadia. Ternyata Annisa menuju kantin, dan disana dia duduk termenung. Nadia mengikutinya dan duduk dihadapannya. Dia mulai membuka pembicaraan.
             elo kenapa keluar Nis?” Tanya Nadia
             gue nggak tega ngliat Ratu nangis. Apa yang udah gue lakuin?
             segitunya banget sih elo
             elo nggak tau rasanya sih
        Perkataan Annisa membuat raut muka Nadia berubah. Dia memang tidak pernah merasakan hal yang dialami Annisa. Dia memang tidak pernah memiliki sahabat, jangankan sahabat, teman pun tak satupun pernah dia miliki.
iya, gue emang nggak pernah ngrasain itu, gue emang nggak pernah punya sahabat, dan gue kepengen punya sahabat, yang kaya’ elo Nis. Gue kepengen punya sahabat, gue pengen ngrasain jadi sahabat. Gue pengen ngrasain apa yang dirasain sahabat gue” kata Nadia, yang sontak mengagetkan Annisa. “padahal, apa sih kurangnya gue? Gue punya banyak duit, bokap gue donatur utama sekolah ini, gak bakal rugi lah, anak yang mau sahabatan am ague. Tapi kenapa nggak ada yang mau sahabatan ama gue, temenan aja nih, nggak mau” lanjut Nadia dengan nada melas.
Nad, jadi karena ini, elo ngebeli gue?” Tanya Annisa
gue nggak ada niat ngebeli elo, gue cuma bikin penawaran aja
okelah, terserah apa istilahnya, tapi cara elo salah. Nggak semuanya bisa kebeli Nad. Apalagi ketulusan persahabatan, nggak usah elo kasih berlian mahal pun, gue mau temenan sama elo Nad, elo cuma perlu ngerubah sikap elo biar anak-anak mau jadi temen bahkan sahabat elo” jelas Annisa panjang lebar.
sikap? Sikap gue yang mana?” Tanya Nadia bloon.
ya ampun Nad, elo nggak nyadar? Elo terlalu ngebanggain harta ortu elo, dan elo paling nggak mau dikalahin. Sekali elo kalah, elo pasti ngebesarin masalah elo itu. Anak-anak nggak suka itu” jelas Annisa.
apa kalo gue berubah, itu ngejamin, banyak anak yang suka dan mau temenan ama gue?” Tanya Nadia ragu
jelaslah Nad, elo tuh cantik, tajir, dan kalo elo rendah hati, pasti banyak yang mau temenan ama elo” jawab Annisa dengan senyuman.
***
        Hari pun berlalu. Annisa dan Nadia tetap bersama, mereka berdua belum meminta maaf kepada Ratu. Mereka belum menyiapkan diri dan mental mereka, dan rencananya, hari ini mereka meminta maaf kepada Ratu.
        Pagi itu, mereka menunggu kedatangan Ratu. Mereka duduk di depan kelas. Tapi Ratu tak kunjung datang. Sampai bel masuk berbunyi, Ratu tetap tidak datang. Dan tak lama setelah bel masuk berbunyi, datang seorang guru yang mengantarkan surat izin, dan itu berasal dari Ratu. Ratu sakit, tidak tahu apa penyebabnya.
        Sepulang sekolah, mereka berdua menjenguk Ratu dirumahnya. Mereka disambut ramah oleh mama Ratu, tapi tidak dengan Ratu. Ratu tidak ingin menemui mereka berdua. Ratu mengunci diri dikamar. Meskipun begitu, mereka tetap menunggu Ratu keluar kamar. Mama Ratu pun ikut membantu, agar Ratu keluar kamar, berbagai bujukan dilontarkan mamanya, tetapi, tetap tidak bisa merubah keadaan. Akhirnya, Annisa mencoba membujuk Ratu.
Ratu, keluar dong dari kamar, gue mau ngomong sama elo Tu, gue mau minta maaf sama elo Tu. Gue nyesel nglakuin yang kemarin Tu. Gue kangen sama elo Tu, elo keluar yah?
        Tak berapa lama setelah Annisa menghentikan bujukannya, Ratu beranjak dari tempat tidur, dan membuka pintu kamarnya yang sedari tadi terkunci dari dalam. Semua orang yang menunggu dan membujuk Ratu agar keluar kamar, menyambut Ratu dengan senyum lebar. Begitu Ratu keluar dari kamar, dia langsung melangkah menuju Annisa, dan memeluknya. Ratu menangis di pelukan Annisa, Annisa mengerti apa yang dirasakan sahabatnya itu. Annisa juga terbawa suasana, dan perlahan, air mata mulai membasahi pipi putihnya.
             udah yah Tu, jangan nangis”kata Annisa sambil mengusap air mata Ratu
elo juga” timpal Ratu juga melakukan hal yang sama dengan Annisa. Akhirnya mereka berdua tersenyum.
        Mereka pun turun menuju ruang tamu, untuk membicarakan masalah kemarin. Di ruang tamu itu sudah ada Nadia dan mama Ratu yang sedang berbincang. Begitu Ratu dan Annisa sampai di ruang tamu, mama Ratu pergi meninggalkan mereka.
        Di ruang tamu itu, mereka berbicara panjang lebar, menjelaskan yang belum jelas, menanyakan yang belum tertanyakan, dan menjawab yang belum terjawab. Setelah semua masalah sudah jelas dan terselesaikan. Mereka saling meminta maaf.


             Mereka sekarang berteman baik, bahkan sekarang Nadia menjadi sahabat Ratu dan Annisa. Kalung yang sudah ada ditangan Ratu, tetap menjadi milik Ratu, Nadia tidak mau menerimanya kembali. Nadia yang selalu membanggakan harta orang tuanya dan selalu ingin menang sendiri, sejak saat itu, berubah 360o, menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan.

Sahabat -3- *cerbung*


Annisaaaaaa” teriak Ratu memanggil Annisa begitu memasuki koridor sekolah. Dengan langkah seribu, Ratu menghampiri Annisa yang terdiam heran.
             ada apa? Pagi-pagi sudah teriak-teriak” Tanya Annisa begitu Ratu sampai dihadapannya.
gue kepikiran berlian yang kemarin, gue nggak bisa tidur, nggak bisa belajar juga” kata Ratu dengan sedikit terengah-engah.
hah? Apa elo bilang? Elo nggak belajar? Hari ini ada ulangan Fisika loh” jawab Annisa setengah kaget.
             hah. Masa sih? Kok..
hhh” Annisa mendengus kesal, dan pergi menuju kelas. Dia kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu memikirkan berlian yang tak mungkin bisa dibelinya itu. Dia juga setengah khawatir, nantinya nilai fisika sahabatnya itu jelek dan tidak mencapai KKM.
        Saat ulangan fisika dimulai, Ratu merasa kesulitan, tapi dia harus tetap berjuang dan mencoba mengerjakan ulangannya itu sampai batas akhir pengerjaan. Tidak peduli nilainya nanti, yang penting dia berusaha, walaupun tanpa belajar semalam.
        Ulangan fisika pun berakhir, dan saat itu juga, hasil ulangan mereka dibagikan. Annisa mendapat nilai terbaik di kelas, dan Ratu mendapat nilai rendah, belum mencapai KKM. Ratu sangat sedih, begitu juga Annisa. Dia tidak tega melihat air mata Ratu mengalir terus membasahi pipi putihnya.
        Melihat kebersamaan dua sahabat itu, Nadia merasa geram dan sangat iri, dia ingin segera menjalankan rencana busuknya. Dan sepertinya dewi fortuna berpihak padanya. Dia melihat Ratu pergi berjalan ke toilet, tidak dengan Annisa. Nadia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengikuti Ratu masuk toilet.
        RATU” panggil Nadia, setelah mereka berada di toilet. Seketika itu Ratu menoleh. “gue tau, kenapa, elo bisa dapet nilai lebih rendah dari gue” kata Nadia, sambil berjalan mendekati Ratu, Ratu hanya terdiam, dia heran terhadap sikap Nadia. “kemarin gue ngeliat elo masuk toko perhiasan. Elo tau gak, siapa pemilik took itu?”. Ratu hanya menggelengkan kepala. “itu toko perhiasan, milik bokap gue. Gue tau apa yang lo pengenin. Kalo elo masih minat sama kalung berlian yang elo liat kemarin. Datang ke rumah gue. Sepulang sekolah.” Tanpa mengucap apapun lagi, Nadia meninggalkan toilet.
        Setelah keluar dari toilet, Ratu terus memikirkan perkataan Nadia. Ratu bingung, apa yang harus dilakukan. Haruskah dia datang ke rumah Nadia, atau dia tidak menggubris perkataan Nadia sesuai saran sahabatnya kemarin.
        gue harus gimana yah? Kalo gue ke rumah Nadia, apa yang dia lakuin yah? Apa gue dikasih itu kalung? Atau gue dimaki” Ratu membatin “tapi, kalo gue kesana, Annisa gak mungkin marah am ague, dan siapa tau Nadia ngasih itu kalung cuma-cuma. Sahabat dapet, berlian juga dapet deh” batin Ratu berkata lagi. Dan kesimpulannya, Ratu akan memenuhi undangan Nadia untuk datang ke rumahnya sepulang sekolah.
SEPULANG SEKOLAH
eh Nis, gue pulang duluan yah. Gue ada urusan mendadak nih” ucap Ratu pada Annisa
             urusan apa?” Tanya Annisa heran
             besok aja gue certain, gue buru-buru
             iyadeh, hati-hati yah”
        Dengan terburu-buru dan tanpa sepengetahuan Annisa, Ratu mengejar Nadia. Dia bermaksud datang ke rumah Nadia bersama dengan tuan rumahnya.
NADIA” teriak Ratu memanggil Nadia di kejauhan. Nadia pun menoleh ke arah asal datangnya suara. Dan dia tersenyum mendapati Ratu menghampiri dirinya.
gue ikut elo” kata Ratu begitu dia sampai dihadapan Nadia.
Masuk” tanpa banyak kata, dia langsung membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan Ratu masuk.
        Dalam perjalan, mereka berdua saling membisu. Tak ada satu katapun terlontar dari mulut mereka. Dan begitu mereka sampai di depan rumah yang bertembok dan bergerbang tinggi, Ratu tercengang “gila, setajir inikah Nadia?” Ratu berkata kagum dalam hati. Begitu pintu gerbang yang ukurannya setinggi pohon palem di depan rumah Nadia terbuka. Tampak dengan jelas rumah Nadia yang sebenarnya.
        Rumah super megah itu lebih besar 3 kali rumah Ratu sendiri. Yang meurut Ratu, rumahnya sudah seluas GELORA BUNG KARNO, ternyata, masih ada rumah yang lebih besar dari rumah Ratu. Rumah Nadia memiliki pintu utama yang sangat besar, dan banyak jendela kaca sangat besar di samping – samping pintu besar itu. Tumbuhan yang juga tak kalah besar juga menghiasi mengelilingi beranda rumah megah itu. Taman kecil yang tepat berada di depan pintu utama, turut serta meghiasi rumah megah itu.
             turun Tu” suara Nadia menghentikan lamunan Ratu
             eh, iya
        Begitu mereka turun, dan menuju ke beranda. Seorang pembantu sudah menunggu untuk membawakan tas sekolah Nadia. Sempat pembantu itu menawarkan untuk membawakan tas sekolah Ratu, tapi Ratu menolaknya.
             elo jangan kaget, gue udah biasa kaya’ gitu” kata Nadia tiba-tiba
             eh, eng, iya” jawab Ratu setengah gagap.
elo duduk aja dulu disitu, gue ganti baju dulu, nanti biar pembantu gue yang bikinin minum” kata Nadia.
        Ratu menuruti kata sang tuan rumah. Dia duduk di ruang tamu yang sangat besar untuk ukuran ruang tamu biasa. Sofa yang ia duduki, juga sangat empuk, berbeda 180o dengan sofa dirumahnya. Tak lama setelah Ratu duduk, seorang pembantu yan cukup cantik untuk ukuran pembantu menghampiri Ratu dengan membawakan minuman.
             Silahkan diminum non” kata pembantu itu sopan.
             iya mbak, makasi” jawab Ratu dengan senyuman
             enon temen sekolahnye non Nadia ye” Tanya pembantu itu dengan logat betawi
             iya mbak” jawab Ratu singkat, dan lagi dengan senyum manisnya.
enon, temennye non Nadia nyang pertame loh, nyang perneh kemari” kata pembantu itu
             ehem” suara Nadia mengagetkan mereka berdua
eh, enon,maap non, permisi” kata pembantu itu, kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu.
        Tanpa disadari oleh Ratu, Nadia datang dengan membawa kotak perhiasan. Kemudian Nadia duduk disebelah Ratu.
             elo tau nggak, ngapain elo gue undang kesini?” Tanya Nadia.
        Ratu hanya menggelengkan kepala, pertanda tidak mengetahui maksud undangan Nadia. Tetapi, sebenarnya Ratu menduga, bahwa dia akan diberi kalung berlian secara cuma-Cuma
             nih, buka” Nadia menyodorkan kotak perhiasan yang dia bawa.
        Ratu membukanya, dia kaget setengah mati. Itu berlian, berlian yang dari kemarin dia inginkan. Tapi dia menutup kotak perhiasannya kembali.
             jadi, apa yang elo mau?” Tanya Ratu dengan memicingkan mata
             yang gue mau? Bukannya itu yang elo mau? Itu buat elo, gratis” jawab Nadia
             iya, emang ini yang gue mau, tapi, elo punya modus lain kan? Jelasin” jawab Ratu.
okay, sabar, gue jelasin. Itu kalung gratis buat elo, asal..” Nadia menghentikan perkataannya.
             asal apa?” timpal Ratu
asal elo ninggalin sahabat tersayang elo, buat gue. Elo nggak boleh deket-deket ama dia, cuma gue yang boleh. Gimana? Penawaran menarik kan?” kata Nadia
sialan lo, gue emang pengen itu kalung. Tapi gue nggak akan nuker sahabat gue ama kalung sialan itu” kata Ratu “nih ambil” Ratu menyerahkan kotak perhiasan itu dengan kasar ke tangan Nadia.
        Nadia hanya terbengong, melihat Ratu beranjak dari ruang tamunya. Dia kesal, kesal dengan sikap Ratu. Dan dia tidak bisa berbuat apapun untuk mendapatkan sahabat.