Friday, December 21, 2012

Sahabat -3- *cerbung*


Annisaaaaaa” teriak Ratu memanggil Annisa begitu memasuki koridor sekolah. Dengan langkah seribu, Ratu menghampiri Annisa yang terdiam heran.
             ada apa? Pagi-pagi sudah teriak-teriak” Tanya Annisa begitu Ratu sampai dihadapannya.
gue kepikiran berlian yang kemarin, gue nggak bisa tidur, nggak bisa belajar juga” kata Ratu dengan sedikit terengah-engah.
hah? Apa elo bilang? Elo nggak belajar? Hari ini ada ulangan Fisika loh” jawab Annisa setengah kaget.
             hah. Masa sih? Kok..
hhh” Annisa mendengus kesal, dan pergi menuju kelas. Dia kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu memikirkan berlian yang tak mungkin bisa dibelinya itu. Dia juga setengah khawatir, nantinya nilai fisika sahabatnya itu jelek dan tidak mencapai KKM.
        Saat ulangan fisika dimulai, Ratu merasa kesulitan, tapi dia harus tetap berjuang dan mencoba mengerjakan ulangannya itu sampai batas akhir pengerjaan. Tidak peduli nilainya nanti, yang penting dia berusaha, walaupun tanpa belajar semalam.
        Ulangan fisika pun berakhir, dan saat itu juga, hasil ulangan mereka dibagikan. Annisa mendapat nilai terbaik di kelas, dan Ratu mendapat nilai rendah, belum mencapai KKM. Ratu sangat sedih, begitu juga Annisa. Dia tidak tega melihat air mata Ratu mengalir terus membasahi pipi putihnya.
        Melihat kebersamaan dua sahabat itu, Nadia merasa geram dan sangat iri, dia ingin segera menjalankan rencana busuknya. Dan sepertinya dewi fortuna berpihak padanya. Dia melihat Ratu pergi berjalan ke toilet, tidak dengan Annisa. Nadia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengikuti Ratu masuk toilet.
        RATU” panggil Nadia, setelah mereka berada di toilet. Seketika itu Ratu menoleh. “gue tau, kenapa, elo bisa dapet nilai lebih rendah dari gue” kata Nadia, sambil berjalan mendekati Ratu, Ratu hanya terdiam, dia heran terhadap sikap Nadia. “kemarin gue ngeliat elo masuk toko perhiasan. Elo tau gak, siapa pemilik took itu?”. Ratu hanya menggelengkan kepala. “itu toko perhiasan, milik bokap gue. Gue tau apa yang lo pengenin. Kalo elo masih minat sama kalung berlian yang elo liat kemarin. Datang ke rumah gue. Sepulang sekolah.” Tanpa mengucap apapun lagi, Nadia meninggalkan toilet.
        Setelah keluar dari toilet, Ratu terus memikirkan perkataan Nadia. Ratu bingung, apa yang harus dilakukan. Haruskah dia datang ke rumah Nadia, atau dia tidak menggubris perkataan Nadia sesuai saran sahabatnya kemarin.
        gue harus gimana yah? Kalo gue ke rumah Nadia, apa yang dia lakuin yah? Apa gue dikasih itu kalung? Atau gue dimaki” Ratu membatin “tapi, kalo gue kesana, Annisa gak mungkin marah am ague, dan siapa tau Nadia ngasih itu kalung cuma-cuma. Sahabat dapet, berlian juga dapet deh” batin Ratu berkata lagi. Dan kesimpulannya, Ratu akan memenuhi undangan Nadia untuk datang ke rumahnya sepulang sekolah.
SEPULANG SEKOLAH
eh Nis, gue pulang duluan yah. Gue ada urusan mendadak nih” ucap Ratu pada Annisa
             urusan apa?” Tanya Annisa heran
             besok aja gue certain, gue buru-buru
             iyadeh, hati-hati yah”
        Dengan terburu-buru dan tanpa sepengetahuan Annisa, Ratu mengejar Nadia. Dia bermaksud datang ke rumah Nadia bersama dengan tuan rumahnya.
NADIA” teriak Ratu memanggil Nadia di kejauhan. Nadia pun menoleh ke arah asal datangnya suara. Dan dia tersenyum mendapati Ratu menghampiri dirinya.
gue ikut elo” kata Ratu begitu dia sampai dihadapan Nadia.
Masuk” tanpa banyak kata, dia langsung membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan Ratu masuk.
        Dalam perjalan, mereka berdua saling membisu. Tak ada satu katapun terlontar dari mulut mereka. Dan begitu mereka sampai di depan rumah yang bertembok dan bergerbang tinggi, Ratu tercengang “gila, setajir inikah Nadia?” Ratu berkata kagum dalam hati. Begitu pintu gerbang yang ukurannya setinggi pohon palem di depan rumah Nadia terbuka. Tampak dengan jelas rumah Nadia yang sebenarnya.
        Rumah super megah itu lebih besar 3 kali rumah Ratu sendiri. Yang meurut Ratu, rumahnya sudah seluas GELORA BUNG KARNO, ternyata, masih ada rumah yang lebih besar dari rumah Ratu. Rumah Nadia memiliki pintu utama yang sangat besar, dan banyak jendela kaca sangat besar di samping – samping pintu besar itu. Tumbuhan yang juga tak kalah besar juga menghiasi mengelilingi beranda rumah megah itu. Taman kecil yang tepat berada di depan pintu utama, turut serta meghiasi rumah megah itu.
             turun Tu” suara Nadia menghentikan lamunan Ratu
             eh, iya
        Begitu mereka turun, dan menuju ke beranda. Seorang pembantu sudah menunggu untuk membawakan tas sekolah Nadia. Sempat pembantu itu menawarkan untuk membawakan tas sekolah Ratu, tapi Ratu menolaknya.
             elo jangan kaget, gue udah biasa kaya’ gitu” kata Nadia tiba-tiba
             eh, eng, iya” jawab Ratu setengah gagap.
elo duduk aja dulu disitu, gue ganti baju dulu, nanti biar pembantu gue yang bikinin minum” kata Nadia.
        Ratu menuruti kata sang tuan rumah. Dia duduk di ruang tamu yang sangat besar untuk ukuran ruang tamu biasa. Sofa yang ia duduki, juga sangat empuk, berbeda 180o dengan sofa dirumahnya. Tak lama setelah Ratu duduk, seorang pembantu yan cukup cantik untuk ukuran pembantu menghampiri Ratu dengan membawakan minuman.
             Silahkan diminum non” kata pembantu itu sopan.
             iya mbak, makasi” jawab Ratu dengan senyuman
             enon temen sekolahnye non Nadia ye” Tanya pembantu itu dengan logat betawi
             iya mbak” jawab Ratu singkat, dan lagi dengan senyum manisnya.
enon, temennye non Nadia nyang pertame loh, nyang perneh kemari” kata pembantu itu
             ehem” suara Nadia mengagetkan mereka berdua
eh, enon,maap non, permisi” kata pembantu itu, kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu.
        Tanpa disadari oleh Ratu, Nadia datang dengan membawa kotak perhiasan. Kemudian Nadia duduk disebelah Ratu.
             elo tau nggak, ngapain elo gue undang kesini?” Tanya Nadia.
        Ratu hanya menggelengkan kepala, pertanda tidak mengetahui maksud undangan Nadia. Tetapi, sebenarnya Ratu menduga, bahwa dia akan diberi kalung berlian secara cuma-Cuma
             nih, buka” Nadia menyodorkan kotak perhiasan yang dia bawa.
        Ratu membukanya, dia kaget setengah mati. Itu berlian, berlian yang dari kemarin dia inginkan. Tapi dia menutup kotak perhiasannya kembali.
             jadi, apa yang elo mau?” Tanya Ratu dengan memicingkan mata
             yang gue mau? Bukannya itu yang elo mau? Itu buat elo, gratis” jawab Nadia
             iya, emang ini yang gue mau, tapi, elo punya modus lain kan? Jelasin” jawab Ratu.
okay, sabar, gue jelasin. Itu kalung gratis buat elo, asal..” Nadia menghentikan perkataannya.
             asal apa?” timpal Ratu
asal elo ninggalin sahabat tersayang elo, buat gue. Elo nggak boleh deket-deket ama dia, cuma gue yang boleh. Gimana? Penawaran menarik kan?” kata Nadia
sialan lo, gue emang pengen itu kalung. Tapi gue nggak akan nuker sahabat gue ama kalung sialan itu” kata Ratu “nih ambil” Ratu menyerahkan kotak perhiasan itu dengan kasar ke tangan Nadia.
        Nadia hanya terbengong, melihat Ratu beranjak dari ruang tamunya. Dia kesal, kesal dengan sikap Ratu. Dan dia tidak bisa berbuat apapun untuk mendapatkan sahabat.

0 comments:

Post a Comment