“Annisaaaaaa” teriak Ratu memanggil
Annisa begitu memasuki koridor sekolah. Dengan langkah seribu, Ratu menghampiri
Annisa yang terdiam heran.
“ada apa? Pagi-pagi sudah teriak-teriak” Tanya Annisa begitu Ratu
sampai dihadapannya.
“gue kepikiran berlian yang kemarin, gue
nggak bisa tidur, nggak bisa belajar juga” kata Ratu dengan sedikit
terengah-engah.
“hah? Apa elo bilang? Elo nggak belajar? Hari
ini ada ulangan Fisika loh” jawab Annisa setengah kaget.
“hah. Masa sih? Kok..”
“hhh” Annisa mendengus kesal, dan pergi
menuju kelas. Dia kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu memikirkan berlian yang
tak mungkin bisa dibelinya itu. Dia juga setengah khawatir, nantinya nilai
fisika sahabatnya itu jelek dan tidak mencapai KKM.
Saat ulangan fisika dimulai, Ratu merasa
kesulitan, tapi dia harus tetap berjuang dan mencoba mengerjakan ulangannya itu
sampai batas akhir pengerjaan. Tidak peduli nilainya nanti, yang penting dia
berusaha, walaupun tanpa belajar semalam.
Ulangan fisika pun berakhir, dan saat
itu juga, hasil ulangan mereka dibagikan. Annisa mendapat nilai terbaik di kelas,
dan Ratu mendapat nilai rendah, belum mencapai KKM. Ratu sangat sedih, begitu
juga Annisa. Dia tidak tega melihat air mata Ratu mengalir terus membasahi pipi
putihnya.
Melihat kebersamaan dua sahabat itu, Nadia
merasa geram dan sangat iri, dia ingin segera menjalankan rencana busuknya. Dan
sepertinya dewi fortuna berpihak padanya. Dia melihat Ratu pergi berjalan ke
toilet, tidak dengan Annisa. Nadia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia
mengikuti Ratu masuk toilet.
“RATU”
panggil Nadia, setelah mereka berada di toilet. Seketika itu Ratu menoleh. “gue tau, kenapa, elo bisa dapet nilai lebih
rendah dari gue” kata Nadia, sambil berjalan mendekati Ratu, Ratu hanya
terdiam, dia heran terhadap sikap Nadia. “kemarin
gue ngeliat elo masuk toko perhiasan. Elo tau gak, siapa pemilik took itu?”.
Ratu hanya menggelengkan kepala. “itu
toko perhiasan, milik bokap gue. Gue tau apa yang lo pengenin. Kalo elo masih
minat sama kalung berlian yang elo liat kemarin. Datang ke rumah gue. Sepulang
sekolah.” Tanpa mengucap apapun lagi, Nadia meninggalkan toilet.
Setelah keluar dari toilet, Ratu terus
memikirkan perkataan Nadia. Ratu bingung, apa yang harus dilakukan. Haruskah
dia datang ke rumah Nadia, atau dia tidak menggubris perkataan Nadia sesuai
saran sahabatnya kemarin.
“gue
harus gimana yah? Kalo gue ke rumah Nadia, apa yang dia lakuin yah? Apa gue
dikasih itu kalung? Atau gue dimaki” Ratu membatin “tapi, kalo gue kesana, Annisa gak mungkin
marah am ague, dan siapa tau Nadia ngasih itu kalung cuma-cuma. Sahabat dapet,
berlian juga dapet deh” batin Ratu berkata lagi. Dan kesimpulannya,
Ratu akan memenuhi undangan Nadia untuk datang ke rumahnya sepulang sekolah.
SEPULANG
SEKOLAH
“eh Nis, gue pulang duluan yah. Gue ada
urusan mendadak nih” ucap Ratu pada Annisa
“urusan apa?” Tanya Annisa heran
“besok aja gue certain, gue buru-buru”
“iyadeh, hati-hati yah”
Dengan terburu-buru dan tanpa
sepengetahuan Annisa, Ratu mengejar Nadia. Dia bermaksud datang ke rumah Nadia
bersama dengan tuan rumahnya.
“NADIA” teriak Ratu memanggil Nadia di
kejauhan. Nadia pun menoleh ke arah asal datangnya suara. Dan dia tersenyum mendapati
Ratu menghampiri dirinya.
“gue ikut elo” kata Ratu begitu dia
sampai dihadapan Nadia.
“Masuk” tanpa banyak kata, dia langsung
membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan Ratu masuk.
Dalam perjalan, mereka berdua saling
membisu. Tak ada satu katapun terlontar dari mulut mereka. Dan begitu mereka
sampai di depan rumah yang bertembok dan bergerbang tinggi, Ratu tercengang “gila, setajir inikah Nadia?” Ratu
berkata kagum dalam hati. Begitu pintu gerbang yang ukurannya setinggi pohon
palem di depan rumah Nadia terbuka. Tampak dengan jelas rumah Nadia yang
sebenarnya.
Rumah super megah itu lebih besar 3 kali
rumah Ratu sendiri. Yang meurut Ratu, rumahnya sudah seluas GELORA BUNG KARNO,
ternyata, masih ada rumah yang lebih besar dari rumah Ratu. Rumah Nadia
memiliki pintu utama yang sangat besar, dan banyak jendela kaca sangat besar di
samping – samping pintu besar itu. Tumbuhan yang juga tak kalah besar juga
menghiasi mengelilingi beranda rumah megah itu. Taman kecil yang tepat berada
di depan pintu utama, turut serta meghiasi rumah megah itu.
“turun Tu” suara Nadia menghentikan lamunan Ratu
“eh, iya”
Begitu mereka turun, dan menuju ke
beranda. Seorang pembantu sudah menunggu untuk membawakan tas sekolah Nadia.
Sempat pembantu itu menawarkan untuk membawakan tas sekolah Ratu, tapi Ratu
menolaknya.
“elo jangan kaget, gue udah biasa kaya’ gitu” kata Nadia tiba-tiba
“eh, eng, iya” jawab Ratu setengah gagap.
“elo duduk aja dulu disitu, gue ganti baju
dulu, nanti biar pembantu gue yang bikinin minum” kata Nadia.
Ratu menuruti kata sang tuan rumah. Dia
duduk di ruang tamu yang sangat besar untuk ukuran ruang tamu biasa. Sofa yang
ia duduki, juga sangat empuk, berbeda 180o dengan sofa dirumahnya.
Tak lama setelah Ratu duduk, seorang pembantu yan cukup cantik untuk ukuran
pembantu menghampiri Ratu dengan membawakan minuman.
“Silahkan diminum non” kata pembantu itu sopan.
“iya mbak, makasi” jawab Ratu dengan senyuman
“enon temen sekolahnye non Nadia ye” Tanya pembantu itu dengan logat
betawi
“iya mbak” jawab Ratu singkat, dan lagi dengan senyum manisnya.
“enon, temennye non Nadia nyang pertame loh,
nyang perneh kemari” kata pembantu itu
“ehem” suara Nadia mengagetkan mereka berdua
“eh, enon,maap non, permisi” kata
pembantu itu, kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu.
Tanpa disadari oleh Ratu, Nadia datang
dengan membawa kotak perhiasan. Kemudian Nadia duduk disebelah Ratu.
“elo tau nggak, ngapain elo gue undang kesini?” Tanya Nadia.
Ratu hanya menggelengkan kepala,
pertanda tidak mengetahui maksud undangan Nadia. Tetapi, sebenarnya Ratu
menduga, bahwa dia akan diberi kalung berlian secara cuma-Cuma
“nih, buka” Nadia menyodorkan kotak perhiasan yang dia bawa.
Ratu membukanya, dia kaget setengah
mati. Itu berlian, berlian yang dari kemarin dia inginkan. Tapi dia menutup
kotak perhiasannya kembali.
“jadi, apa yang elo mau?” Tanya Ratu dengan memicingkan mata
“yang gue mau? Bukannya itu yang elo mau? Itu buat elo, gratis”
jawab Nadia
“iya, emang ini yang gue mau, tapi, elo punya modus lain kan? Jelasin”
jawab Ratu.
“okay, sabar, gue jelasin. Itu kalung gratis
buat elo, asal..” Nadia menghentikan perkataannya.
“asal apa?” timpal Ratu
“asal elo ninggalin sahabat tersayang elo,
buat gue. Elo nggak boleh deket-deket ama dia, cuma gue yang boleh. Gimana?
Penawaran menarik kan?” kata Nadia
“sialan lo, gue emang pengen itu kalung. Tapi
gue nggak akan nuker sahabat gue ama kalung sialan itu” kata Ratu “nih ambil” Ratu menyerahkan kotak perhiasan
itu dengan kasar ke tangan Nadia.
Nadia hanya terbengong, melihat Ratu
beranjak dari ruang tamunya. Dia kesal, kesal dengan sikap Ratu. Dan dia tidak
bisa berbuat apapun untuk mendapatkan sahabat.


0 comments:
Post a Comment