Pagi itu, Anna bangun tepat pukul empat pagi. Tapi,
tidak seperti biasanya. Anna merasa malas untuk memulai rutinitasnya
sehari-hari. Banyak baying-bayang yang hadir di kepalanya. Semua bayangan itu
berputar-putar tanpa henti sampai membuat kepalanya terasa pening.
Memang, akhir-akhir ini Anna mendapatkan
banyak tugas dari sekolahnya. Dan beberapa tugas atau pekerjaan rumah itu, ada
yang belum diselesaikannya. Belum lagi kompetisi di tempat bimbelnya yang
mengharuskan Anna untuk mengerjakan ratusan soal.
Semakin Anna memikirkan itu semua,
kepala Anna terasa semakin sakit. Dan timbul satu emosi yang dalam dirinya yang
ingin menyeruak dari dalam hatinya. Anna ingin berteriak kencang,
sekencang-kencangnya. Ingin melepaskan semua beban pikirannya. Namun dia sadar,
sedang berada dimana dia saat ini.
“Astaghfirullah” Anna beristighfar,
untuk menghilangkan sedikit emosinya. Kemudian, dia turun dari ranjangnya dan
menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur dengan peralatan-peralata
memasak.
“Ma, aku nggak enak badan” Anna
merengek.
Mendengar suara Anna, ibunya menoleh.
“Kenapa? Mama siapkan air hangat ya?” Ibunya menawarkan. Tapi, Anna hanya
menggeleng.
“Aku nggak sekolah ya?”
“Kamu itu sudah kelas tiga, jangan
sering-sering nggak sekolah” Ibunya berkata dengan suara tegas. Anna cemberut,
dan meninggalkan ibunya disana untuk shalat subuh.
Setelah melaksanakan kewajibannya, Anna
kembali ke kamarnya. Disana, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Kembali bayangan akan tugas-tugasnya menghampiri pikirannya, yang juga
menimbulkan satu emosi dalam hati Anna yang kemudian diekspresikan dengan
linangan air mata.
Beberapa menit Anna menangis, dengan
bayang-bayang tugas yang terus menerus menghantui dan merusak pikirannya,
tiba-tiba saja ibu membuka pintu kamar Anna yang tidak pernah dikunci. Dengan
cepat Anna menghapus percuma air matanya.
“Itu, diantar Ayah ke dokter” Ibu
berkata dengan lembut, dan hanya dijawab oleh Anna dengan sebuah anggukan.
Sebenarnya, Anna sangat keget saan
ibunya menyebutkan kata “dokter”. Anna tahu, bagaimana kondisi tubuhnya.
Tubuhnya tidak sedang sakit. Tapi, psikis
nya lah yang perlu diobati.
Dan sekarang, pikiran Anna bertambah
kacau dengan pernyataan ibunya tadi. Anna bingung, akan dijawab apa pertanyaan
dokter nanti. Jika dia ditanya, apa yang dia rasakan, bolehkah dia menceritakan
semuanya pada dokter?
‘ah, tidak’ Anna bergumam dalam hati.
‘dokter bukan psikiater. Dia tetaplah dokter, yang menyembuhkan penyakit tubuh.
Bukan menyembuhkan penyakit psikis’. Tapi,
meskipun demikian, Anna tetap harus berangkat ke dokter.
Dengan diantarkan ayahnya, Anna sampai
di tempat praktik salah satu dokter langganannya. Karena sudah beberapa kali
Anna memeriksakan tubuhnya disana, sang dokter mengenal Anna dengan baik.
“Saki tapa An?” Sang dokter bertanya
dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah Anna.
Anna berpikir keras, sampai akhirnya,
“Kepala saya sakit dok. Di bagian ini” Anna menunjuk bagian kepalanya dengan
asal. Mendengar jawaban Anna, raut muka sang dokter berubah. Dia terlihat
cemas.
“Sudah berapa lama?” Sang dokter
bertanya kembali.
Karena Anna sedikit bisa membaca
kecemasan sang dokter, dia tidak ingin memperparah keadaan. Dia menjawab. “Dua
hari ini dok”.
Tak ayal, raut wajah sang dokter tidak
lagi cemas. Dia menyiapkan beberapa obat dengan bercakap-cakap dengan Anna.
Setelah pulang dari dokter, Anna langsung masuk
kamar dan merebahkan dirinya hingga tidak terasa waktu berjalan cepat. Orangtua
Anna sudah berangkat bekerja. Dan Anna beranjak dari ranjangnya dengan cepat
untuk menyiapkan semua yang akan dia kerjakan.
Dia menyusun rencana dalam pikirannya.
Pertama-tama, dia harus mengerjakan tugas yang waktu pengumpulannya paling
awal. Dimulai dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Kemudian,
dia mencoba mengerjakan soal dari tempat bimbelnya yang berjumlah sekitar
seratus soal.
Pukul satu siang, dia belum
menyelesaikan semuanya. hanya tersisa matematika dan soal-soal dari tempat
bimbelnya. Dia lelah. Tubuhnya menuntut haknya untuk beristirahat. Begitu juga otaknya.
Sekitar satu jam dia beristirahat dengan
memejamkan matanya dan merebahkan badannya, dia kembali melakukan aktifitasnya
tadi. Tanpa disangka, orangtua Anna sudah berada di rumah.
Saat hendak mengambil minuman di dapur,
Ibu menanyakan keadaan Anna.
“Bagaimana? Sudah baikan?” Anna hanya menganggu, dan
kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan semua tugasnya yang tersisa.
Pukul delapan malam, Anna beru
menyelesaikan semuanya. dan dengan wajah lelah, dia tersenyum. Puas.
“Alhamdulillah” Anna mengucapkannya perlahan, tapi dalam.
Anna memang tergolong siswi yang suka
menabung tugas. Sehingga, pada saat tugasnya akan dikumpulkan, dia bingung dan
jadi tertekan. Hingga seperti kejadian tersebut.
Karangan ini hanya untuk hiburan semata. Tidak untuk dijiplak.

