Friday, December 21, 2012

Sahabat -2- *cerbung*


Keesokan harinya, Nadia menunggu Ratu dan Annisa di depan kelasnya, bermaksud untuk melawan perbuatan Ratu kemarin. Begitu keduanya datang.
eh, kemana lo, sini gue mau ngomong” Nadia langsung menarik tangan Annisa, dan membawanya ke sebelah pintu kelas. Nadia tau, dengan begitu, Ratu pasti mengikuti mereka berdua.
eh ngapain sih lo narik tangan dia, kemarin tuh ulah gue, bukan dia, lepasin” teriak Ratu.
Seketika juga, Nadia melepaskan tangan Annisa. Annisa hanya diam, dan menghalangi Ratu untuk tidak bersikap kasar terhadap Nadia.
jadi, maksud elo kemarin apaan? Elo iri ama gue, yang dapet jawaban dari dia” Tanya Nadia sambil menujuk kea rah Annisa.
hah? Apa? Iri? Sory aja yah, gue punya otak buat mikir. Gue nggak mau aja, kalo elo manfaatin sobat gue. Dan, jangan nunjuk-nunjuk sobat gue” Jawab Ratu dengan nada tinggi.
hhh, sahabat” kata Nadia sedikit nyengir sinis. Tak mau kalah.
ngapain lo kaya gitu? Jangan-jangan elo iri ama gue, punya sobat yang pinternya selangit. Alah, ngaku aja deh lo” Timpal Ratu ikutan sinis
udah dong, jangan berantem, malu kan” Kata Annisa, untuk yang pertama kalinya, sejak mereka berdebat.
diam” kata Nadia dan Ratu hampir bersamaan. Yang sontak membuat Annisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
elo pikir gue iri Cuma gara-gara elo punya sahabat kaya gini?” jawab Nadia sambil menggerakkan jari telunjuk ke arah Annisa.”kalo gue mau, gue bisa beli sahabat lo ini. Ngapain gue iri sama elo. Gak guna” lanjutnya.
eh, apa lo bilang? Sini lo kalo berani” kata Ratu dan bersiap-siap untuk mem-bogem Nadia. Tapi untunglah Annisa menahan sahabatnya itu.
udah Ratu, udah, kita pergi aja” Ajak Annisa dengan setengah memeluk Ratu untuk menahannya.
        Sebenarnya, Nadia merasa iri dengan persahabatan mereka berdua. Nadia berniat untuk menghancurkan persahabatan mereka berdua. Dia merasa, seharusnya dia yang lebih bahagia, dan lebih beruntung untuk memiliki banyak sahabat. Tapi kenyataannya berbeda, tak satupun siswa SMA Harapan 2 mau bersahabat dengan Nadia.
        Nadia memang anak tunggal seorang pengusaha berlian. Dia sering dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Apapun yang dia inginkan, pasti akan dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Orang tua Nadia juga menjadi donatur utama di sekolah Nadia. Meskipun begitu, orangtua Nadia tidak bisa membeli ketulusan seorang sahabat untuk putri tunggalnya itu.
        Di dalam kelas, Annisa dan Ratu masih terus membicarakan sikap Nadia terhadap mereka barusan. Annisa menyarankan kepada Ratu untuk tidak menggubris Nadia lagi, Annisa khawatir nantinya Nadia akan memperpanjang urusan tersebut. Nadia memang suka melibatkan kedua orang tuanya dalam masalahnya disekolah. Sudah banyak korban, akibat berurusan dengan Nadia.
        Sepulang sekolah, Ratu mengajak Annisa untuk menemaninya ke salah satu Mall di kota mereka. Saat mereka berada di mall itu, Ratu melihat sebuah kalung berlian yang sangat bagus, dan terlihat mahal. Ratu yang suka mengkoleksi accessories, sangat ingin memilikinya. Tapi itu tidak mungkin terjadi, karena orangtuanya pasti tidak akan membelikan kalung berlian itu. Dan kalaupun Ratu menabung uangnya, pasti memerlukan waktu yang sangat lama. Dan berlian itu pasti sudah terjual.
             Nis, gue pengen deh berlian tadi” kata Ratu pada Annisa
             yang seharga sama rumah gue itu?
iya. Coba gue jadi Nadia, pasti bakal kebeli itu berlian, dan koleksi gue nambah deh
hush, jangan ngomong gitu, rejeki orang itu beda-beda. Mendingan, jangan ngomongin berlian mahal itu deh, bikin tambah pengen aja
             iya deh, iya
             Saat mereka berjalan dan membicarakan berlian itu. Mereka tidak merasa bahwa ada yang mengikuti mereka dan menguping pembicaraan mereka tadi. Dialah Nadia. Mendengar pembicaraan mereka berdua, terbersit di pikiran Nadia rencana busuk untuk merusak persahabatan mereka.

0 comments:

Post a Comment