Keesokan
harinya, Nadia menunggu Ratu dan Annisa di depan kelasnya, bermaksud untuk
melawan perbuatan Ratu kemarin. Begitu keduanya datang.
“eh, kemana lo, sini gue mau ngomong” Nadia
langsung menarik tangan Annisa, dan membawanya ke sebelah pintu kelas. Nadia
tau, dengan begitu, Ratu pasti mengikuti mereka berdua.
“eh ngapain sih lo narik tangan dia, kemarin
tuh ulah gue, bukan dia, lepasin” teriak Ratu.
Seketika
juga, Nadia melepaskan tangan Annisa. Annisa hanya diam, dan menghalangi Ratu
untuk tidak bersikap kasar terhadap Nadia.
“jadi, maksud elo kemarin apaan? Elo iri ama gue,
yang dapet jawaban dari dia” Tanya Nadia sambil menujuk kea rah Annisa.
“hah? Apa? Iri? Sory aja yah, gue punya otak
buat mikir. Gue nggak mau aja, kalo elo manfaatin sobat gue. Dan, jangan
nunjuk-nunjuk sobat gue” Jawab Ratu dengan nada tinggi.
“hhh, sahabat” kata Nadia sedikit nyengir
sinis. Tak mau kalah.
“ngapain lo kaya gitu? Jangan-jangan elo iri
ama gue, punya sobat yang pinternya selangit. Alah, ngaku aja deh lo”
Timpal Ratu ikutan sinis
“udah dong, jangan berantem, malu kan”
Kata Annisa, untuk yang pertama kalinya, sejak mereka berdebat.
“diam” kata Nadia dan Ratu hampir
bersamaan. Yang sontak membuat Annisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“elo pikir gue iri Cuma gara-gara elo punya sahabat
kaya gini?” jawab Nadia sambil menggerakkan jari telunjuk ke arah Annisa.”kalo gue mau, gue bisa beli sahabat lo ini.
Ngapain gue iri sama elo. Gak guna” lanjutnya.
“eh, apa lo bilang? Sini lo kalo berani”
kata Ratu dan bersiap-siap untuk mem-bogem Nadia. Tapi untunglah Annisa menahan
sahabatnya itu.
“udah Ratu, udah, kita pergi aja” Ajak
Annisa dengan setengah memeluk Ratu untuk menahannya.
Sebenarnya, Nadia merasa iri dengan
persahabatan mereka berdua. Nadia berniat untuk menghancurkan persahabatan
mereka berdua. Dia merasa, seharusnya dia yang lebih bahagia, dan lebih
beruntung untuk memiliki banyak sahabat. Tapi kenyataannya berbeda, tak satupun
siswa SMA Harapan 2 mau bersahabat dengan Nadia.
Nadia memang anak tunggal seorang
pengusaha berlian. Dia sering dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Apapun yang
dia inginkan, pasti akan dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Orang tua Nadia
juga menjadi donatur utama di sekolah Nadia. Meskipun begitu, orangtua Nadia tidak
bisa membeli ketulusan seorang sahabat untuk putri tunggalnya itu.
Di dalam kelas, Annisa dan Ratu masih
terus membicarakan sikap Nadia terhadap mereka barusan. Annisa menyarankan
kepada Ratu untuk tidak menggubris Nadia lagi, Annisa khawatir nantinya Nadia
akan memperpanjang urusan tersebut. Nadia memang suka melibatkan kedua orang
tuanya dalam masalahnya disekolah. Sudah banyak korban, akibat berurusan dengan
Nadia.
Sepulang sekolah, Ratu mengajak Annisa
untuk menemaninya ke salah satu Mall di kota mereka. Saat mereka berada di mall
itu, Ratu melihat sebuah kalung berlian yang sangat bagus, dan terlihat mahal.
Ratu yang suka mengkoleksi accessories,
sangat ingin memilikinya. Tapi itu tidak mungkin terjadi, karena orangtuanya
pasti tidak akan membelikan kalung berlian itu. Dan kalaupun Ratu menabung
uangnya, pasti memerlukan waktu yang sangat lama. Dan berlian itu pasti sudah
terjual.
“Nis, gue pengen deh berlian tadi” kata Ratu pada Annisa
“yang seharga sama rumah gue itu?”
“iya. Coba gue jadi Nadia, pasti bakal kebeli
itu berlian, dan koleksi gue nambah deh”
“hush, jangan ngomong gitu, rejeki orang itu
beda-beda. Mendingan, jangan ngomongin berlian mahal itu deh, bikin tambah
pengen aja”
“iya deh, iya”
Saat mereka berjalan dan
membicarakan berlian itu. Mereka tidak merasa bahwa ada yang mengikuti mereka dan
menguping pembicaraan mereka tadi. Dialah Nadia. Mendengar pembicaraan mereka
berdua, terbersit di pikiran Nadia rencana busuk untuk merusak persahabatan
mereka.


0 comments:
Post a Comment